Tambang Merusak Jalan Evakuasi Gunung Merapi, benarkah?

Gunung Merapi adalah salah satu gunung paling aktif dunia. Banyak orang secara umum mengenal merapi sebagai sumber bencana ketika meletus. Tetapi sejatinya ketika terjadi letusan, bagi masyarakat sekitar merapi, gunung ini juga membawa berkah untuk kesuburan tanah disekitarnya. Berkah karena sebagian besar masyarakat Merapi adalah petani yang bergantung pada kualitas tanah yang baik, dan kesuburan itu selalu dijaga oleh Merapi. Selain itu, ketika letusan terjadi, material seperti pasir dan batu juga akhirnya selalu tersedia dan tidak pernah habis, karena selalu diisi dan diisi kembali ketika letusan terjadi. Masyarakat tidak perlu kesulitan bahan baku pasir dan batu untuk membangun sarana prasarana dan tempat tinggalnya.

Pasir dan batu yang melimpah ruah di Merapi juga menjadi salah satu bahan baku bagi pembangunan negara kita khususnya di pulau Jawa. Karena itu, tambang-tambang pasir dan batupun merebak dilereng Merapi untuk memenuhi kebutuhan pembangunan tersebut. Salah satunya ada dilereng Tenggara Merapi yang berada di wilayah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Disebagian besar aliran sungai dan juga lahan-lahan masyarakat saat ini menjadi lahan pertambangan pasir. Pada akhirnya, ekonomi masyarakatpun bergerak dengan adanya aktifitas penambangan ini.

Tetapi tidak bisa dipungkiri, segala aktifitas dapat menimbulkan dampak positif dan negative. Seperti halnya yang terjadi di Klaten ini, khususnya di Kawasan Rawan Bencana III Gunung Merapi. Dampak bergeraknya sector perekonomian melalui pertambangan ini tak pelak juga dibarengi dengan dampak rusaknya fasilitas umum yaitu jalan raya yang akhirnya juga menjadi jalur aktifitas pengangkutan tambang pasir dan batu. Apalagi jalan ini menjadi akses fital untuk jalur evakuasi bagi masyarakat ketika terjadi letusan dari gunung paling aktif didunia ini.

KRB tiga adalah daerah seluas 120 kilometer persegi yang posisinya paling dekat terhadap kawah sehingga paling rawan. KRB tiga berpotensi besar mengalami terjangan awan panas , aliran lava, lontaran batu pijar, guguran batu pijar dan paparan gas beracun ketika terjadi letusan. Oleh karena itu segala sarana prasarana evakuasi diwilayah ini harus selalu dalam kondisi maksimal. Sehingga ketika terjadi letusan, proses evakuasi dapat berjalan dengan aman, lancar, dan cepat. Tentu saja salah satu sarana paling vital pada proses evakuasi ini adalah jalan.

Beberapa waktu yang lalu sempat viral di media kalau jalan raya di KRB tiga merapi diwilayah Deles Klaten ini dalam kondisi rusak, karena itu kita akan lihat langsung bagaimana kondisi jalan tersebut. Kita akan mulai dengan membuktikan informasi tentang masifnya jumlah truk pengangkut bahan tambang ini dimulai dari Pasar Kembang Klaten kemudian melalui sepanjang Jalan Deles-Indah menuju desa teratas yang masuk dalam KRB tiga kira-kira kita akan membutuhkan waktu 15-30 menit. Informasi dari masyarakat, dalam sehari lebih dari 3.000 truk beraktifitas mengangkut bahan tambang melalui jalur utama ini, yang menyebabkan ruas jalan di KRB tiga rusak.

Semoga kedepan harapan masyarakat agar ada keselarasan antara aktifitas kebutuhan pembangunan dalam bentuk pertambangan dan sarana jalan raya yang baik untuk kegiatan sehari-hari terutama sarana evakuasi tanggap bencana merapi bisa segera terwujud. Dengan keselarasan tersebut, perekonomian, keselamatan, dan pada akhirnya kesejahteraan masyarakat tentunya akan lebih terjamin. Apalagi Gubernur Jawa Tengah Ganjar pranowo dalam kunjungan meninjau kondisi jalan ini pada bulan Juli kemaren sempat menjanjikan adanya perbaikan jalan dengan menggunakan anggaran dari pemprov jateng. Tentunya patut kita apresiasi ya dan semoga segera terealisasi tidak perlu menunggu Merapi meletus lagi.

Tonton video lengkapnya disini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *