Jalan Hidup Provokator Masyarakat Merapi

Kisah hidup Sukiman mendampingi masyarakat Gunung Merapi

Sukiman Mohtar Pratomo atau biasa dipanggil Pakde Kiman, merupakan salah seorang penggiat masyarakat di Lereng Gunung Merapi. Tepatnya di Ds. Deles, Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Pakde Kiman senang disebut provokator karena sebelumnya dia pernah disebut sebagai provokator dan pembangkang ketika berkegiatan bersama masyarakat. Berawal dari kepeduliannya terhadap masyarakat disekitarnya, dia kemudian memutuskan pulang kampong membangun desanya. Diawali dengan memusnahkan ijazahnya sebagai komitmen kembali ke desa dan menghilangkan prasangka warga bahwa apa yang dia lakukan murni untuk membangun desa dan bukan untuk kepentingan pribadi seperti mencalonkan diri menjadi wakil rakyat dan semacamnya. Pakde Kiman memulai dengan membangun Radio Komunitas Lintas Merapi sebagai sarana menyampaikan informasi khususnya tentang Gunung Merapi saat terjadi letusan. Selain itu yang utama adalah, Radio Komunitas digunakan sebagai WADAH UNTUK DISKUSI DAN BERKUMPUL WARGA, membicarakan pembangunan di desa nya. Radio komunitas saat ini masih terus berjalan dikelola warga dan rutin dikunjungi Radi Komunitas baik dalam dan luar negeri. Pakde Kiman pernah memberikan pelatihan di Jepang, India, dan Swiss. Pakde Kiman juga pernah menjadi ketua JRKI Jawa Tengah (jaringan Radio Komunitas Indonesia).

Kemudian tahun 2003-2004 pakde Kiman mulai mengenalkan warga cara bercocok tanam yang benar, karena menurut dia desanya mempunyai potensi besar untuk pengembangan sayuran. Setelah berhasil Pakde Kiman mulai mengenalkan kopi pada 2014, saat ini masyarakat sudah dapat membudidayakan dan mengolah kopi, namun masyarakat masih harus didampingi dalam hal penjualan kopi.

Selain dua produk tersebut, selama berproses sayur dan kopi, desa Sidorejo juga mempunyai banyak produk dan kegiatan seperti madu, pengelolaan ternak, jahe, sirup, sambal, wedang rempah, kerajinan bamboo dari masyarakat difabel, beasiswa pendidikan anak, warung jujur, dan jimpitan serta Tabungan Siaga. Seluruh kegiatan masyarakat dikelola secara berkelompok untuk memaksimalkan dampak dan semakin memperkuat kerukunan masyarakat. Sayangnya wisata yang sebenarnya menjadi potensi menarik tidak dapat berkembang karena jalan yang rusak akibat aktifitas tambang pasir. Selain itu jalan yang rusak mengakibatkan terhambatnya evakuasi jika terjadi letusan Merapi dan masyarakat harus mengungsi.

Tabungan siaga yang berhasil didengungkan Pakde Kiman kepada masyarakat yaitu tabungan harian/bulanan masyarakat sebagai antisipasi jika terjadi letusan Merapi. Ketika letusan Merapi terjadi, masyarakat tidak perlu lagi merasa menjadi pengungsi karena diungsikan, namun karena sudah punya tabungan masyarakat akan melakukan refresing keluar desa menggunakan dana yang terkumpul dalam Tabungan Siaga tersebut. Semua kegiatan yang dikelola Pakde Kiman selama ini dilakukan dengan terjun langsung, mempraktekkan dan memberi contoh kepada masyarakat. Semua kegiatan dikelola dalam kelompok, dan sangat mengutamakan budaya berbagi, bergotong royong, dan tidak melupakan pendidikan anak khususnya anak-anak yatim dan anak tidak mampu.

Seperti apa kisah selengkapnya perjuangan Sukiman di Merapi, saksikan video berikut ini sampai akhir. Semoga apa yang dilakukan Pakde Kiman dalam kurun waktu lebih dari 20 tahun ini dapat menginspirasi masyarakat lain di Indonesia untuk menjadikan masyarakat sadar menjaga lingkungan dan mandiri membangun desanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *