Ular Welang, Ular Darat Yang Mematikan

Ular Welang, Ular Darat Yang Mematikan

Ular Welang (Bungarus fasciatus) merupakan ular yang bermotif sangat cantik, namun dibelakang kecantikannya ular ini sangat berbisa. Umumnya masyarakat Indonesia menyebutnya Ular Belang merujuk pada motif belang-belangnya. Ular Welang sangat mirip dengan kerabatnya yang sama-sama berbisa yaitu Ular Weling (Bungarus candidus), meskipun serupa namun kedua ular ini berbeda. Kedua ular ini memang mirip bentuk dan warnanya. Nama welang dan weling (dari bahasa Jawa) menunjuk kepada pola belang hitam-putih (atau hitam-kuning) yang berlainan.

Ular Welang Banded Krait

Dalam istilah bahasa Inggris, ular welang dikenal sebagai Banded Krait. Sementara nama ilmiahnya, Bungarus fasciatus, berasal dari kata dalam bahasa Telugu (India) bungarum yang berarti ‘emas’, merujuk pada belang warna kuning di tubuhnya, dan bahasa Latin fasciata yang berarti ‘berbelang’ (fascia, belang atau pita). Pada Ular Welang, belang hitamnya utuh berupa cincin dari punggung hingga ke perut, sedangkan pada Ular Weling belang hitamnya hanya sekadar selang-seling warna di bagian punggung, sementara perutnya seluruhnya berwarna putih. Kali ini kita bahas dulu Ular Welang ya, kembarannya kita bahas di artikel yang berbeda (Klik disini).

Baca juga: Truno bamban “Ular Hijau Yang Mematikan”

Ular Welang belang samapai di perut
Ular Welang (Bungarus fasciatus)
Dok. Huda Wiradarma


Ular dengan ukuran sedang ini umumnya memiliki panjang maksimum kurang lebih 2 meter. Namun pada umumnya ular dewasa memiliki panjang 1,5 meter. Kurang lebih sepersepuluh dari panjang tersebut merupakan ekornya yang berujung tumpu. Ular ini memiliki warna menyolok, belang-belang hitam kuning (atau hitam putih). Warna hitamnya terus bersambung hingga ke sisi, kecuali pada sepertiga bagian muka tubuhnya. Kepala lebar dan gepeng dengan pola di atasnya seperti anak panah berwarna hitam, dan bibir yang berwarna kekuningan atau keputihan kusam. Bentuk badan menyegitiga, dengan punggung yang membentuk sudut di atas.

 Ular Welang (Bungarus fasciatus)
Ular Welang (Bungarus fasciatus)
Dok. snakedatabase

Ular welang diketahui menyebar luas mulai dari India, Bhutan, Nepal, Bangladesh, Cina bagian selatan (termasuk Hong Kong, Hainan, dan Makao), Burma, Thailand, Laos, Vietnam, Kamboja, Semenanjung Malaya, Singapura, dan Indonesia (Sumatra, Jawa, Borneo). Sebaran ular ini meliputi wilayah-wilayah dekat pantai hingga daerah bergunung-gunung sekurangnya sampai ketinggian sekitar 2.300 m dpl., namun umumnya lebih kerap dijumpai di dataran rendah. Ular ini menghuni wilayah-wilayah perbatasan antara hutan-hutan dataran rendah yang lembap dengan yang lebih kering, hutan-hutan pegunungan, semak belukar, rawa-rawa, daerah pertanian, perkebunan dan persawahan. Tidak jarang pula dijumpai dekat permukiman, jalan raya atau sungai.

Mangsanya terutama adalah jenis-jenis ular lainnya diantaranya, ular welang juga memangsa ular jali (Ptyas korros). Meskipun ular ini mau juga memakan aneka jenis reptil, kodok, serta kadang-kadang ikan, dan telur. Ular ini aktif berburu di malam hari (nokturnal) di atas tanah (terestrial), dan pada siang hari bersembunyi di bawah tumpukan kayu atau batu. Dilaporkan bahwa ular ini umumnya jinak dan tak mau menggigit orang di siang hari, namun agresif di malam hari. Bila diganggu, biasanya ular ini akan menyembunyikan kepalanya di bawah tumpukan tubuhnya yang bergelung. Akan tetapi hal ini tak dapat dijadikan pegangan mengingat sifat-sifat ular yang amat bervariasi dari individu ke individu dan sukar untuk diramalkan. Ular welang dikategorikan amat berbahaya karena bisanya yang bersifat mematikan, meskipun laporan kematian pada manusia akibat gigitan ular ini termasuk rendah.

Baca juga: Kukang dan Kehidupan Uniknya

Ular Welang, Banded Krait, Bungarus fasciatus
Ular Welang/ Banded Krait/ Bungarus fasciatus
Dok. Serge Morand

Racun yang dimiliki Ular Welang sangat mematikan dilihat dari jumlah korban yang lebih banyak meninggal dan tidak dapat tertolong karena korban yang meninggal biasanya tidak menyadari bahwa telah tergigit, begitu terasa sesak nafas dan jantung melemah baru mereka menyadari bahwa telah tergigit. Saat itu racun telah menyebar keseluruh tubuh dan korban sudah tidak berdaya. Satu hal lagi yang biasanya terjadi adalah korban berada jauh dari rumah sakit yang menyediakan serum. Akibatnya korban biasanya tidak tertolong nyawanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *