082137355566
info@mepow.net

10 satwa langka Indonesia jadi perhatian dunia

Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa yang selalu membuat kita bangga, termasuk jenis flora dan faunanya yang melimpah dan beranekaragam. Bahkan, beberapa spesies hewan yang hampir punah dan langka hanya ada di hutan-hutan di Indonesia. Hal yang tentunya memprihatinkan bagi kita sehingga banyak mencuri perhatian dunia. Akan tetapi, keberadaan satwa langka Indonesia ini juga menarik minat wisatawan luar negeri untuk melihat langsung ke Indonesia. Untuk sekedar melihat hewan-hewang langka ini, para wisatawan harus jauh-jauh ke Indonesia dan bahkan berkunjung ke daerah-daerah terpecencil. Selain wisatawan, tentu saja banyak masyarakat luar negeri baik per-orangan maupun organisasi berbondong-bondong ke Indonesia untuk bisa terlibat dalam upaya pelestarian satwa-satwa langka ini. Berikut beberapa satwa langka khas Indonesia:

1. Orangutan di Kalimantan dan Sumatera

Orang Utan merupakan salah satu mamalia langka yang hanya bisa di temukan di Indonesia. Satwa unik ini hanya bisa ditemukan dihabitat aslinya di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Bentuknya menyerupai kera besar dengan lengan panjang dan bulu yang lebat berwarna kemerahan, serta tidak memiliki ekor. Orangutan mempunyai fungsi penting menjaga ekosistem hutan untuk nyebar biji, bahkan saat tidur orangutan akan membuka kanopi hutan sehingga matahari bisa masuk ke hutan, biji yang dia sebar kemudian tumbuh menjadi pohon yang menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksigen. Selain itu, hutan yang bagus akan menjadi sumber air yang tentunya menjadi kebutuhan utama bagi manusia. Fungsi yang sesungguhnya bermanfaat bagi manusia. Ada nggak manusia yang bisa hidup tanpa oksigen dan air? tentu saja tidak ada. Sayangnya populasi satwa langka Indonesia ini semakin menurun karena habitat yang rusak karena pemanfaatan hutan yang tidak berkelanjutan dan ilegal loging danperburuan satwa ini masih sangat tinggi. Sayang sekali ya.

 Baca juga: Owa Jawa, Permata Yang Tersisa dan Terlupa

2. Komodo hanya ada di Pulau Komodo NTT

Komodo merupakan kadal terbesar di dunia yang hanya hidup di pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur. Komodo oleh penduduk asli Pulau Komodo disebut juga dengan nama ora. Komodo merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2-3 m. Ukurannya yang besar ini berhubungan dengan gejala gigantisme pulau, yakni kecenderungan meraksasanya tubuh hewan-hewan tertentu yang hidup di pulau kecil terkait dengan tidak adanya mamalia karnivora di pulau tempat hidup komodo, dan laju metabolisme komodo yang kecil. Komodo menduduki posisi predator puncak yang mendominasi ekosistem tempatnya hidup. Komodo dapat hidup sampai dengan usia 40-50 tahun. Untuk membedakan komodo muda dan tua, dapat dilihat dari bintik kuning di bagian dekat mata. Semakin banyak bintik kuning, manandakan usia komodo semakin muda.

Sayangnya habitat komodo di alam bebas telah menyusut akibat aktivitas manusia dan karenanya IUCN memasukkan komodo sebagai spesies yang rentan terhadap kepunahan. Satwa langka indonesia ini kini dilindungi di bawah peraturan pemerintah Indonesia dan dijaga disebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Komodo yang didirikan untuk melindungi mereka.

Baca juga: Kukang dan Kehidupan Uniknya

3. Burung Cenderawasih

Karena keindahannya, burung Cendrawasih layak digelari sebagai Burung Surga (Bird of Paradise). Burung Cendrawasih memiliki bulu-bulu yang indah layaknya bidadari yang turun dari surga (kayangan). Keindahan bulu Cendrawasih tiada duanya. Wajar jika karena kecantikannya ini kemudian membuat cenderawasih disebut-sebut sebagai burung surga. Jika disejajarkan dengan burung lainnya, cenderawasih memiliki kedudukan yang sama tingginya seperti burung phoenix dalam mitologi Timur Tengah dan burung fenghuang dalam mitologi Asia Timur. Secara etimologi, cenderawasih berasal dari dua buah kata, yakni cendera/candra yang berarti dewa-dewi bulan dan wasi yang berarti utusan. Bahkan menurut beberapa kitab, burung ini berasal dari surga dan senantiasa berdampingan dengan para wali. Bahkan disebutkan dalam kitab-kitab lama bahwa burung cenderawasih hanya memakan embun surga dan mengeluarkan wangi yang susah dideskripsikan melalui kata-kata.

Oleh masyarakat Papua, burung cendrawasih dipercaya sebagai titisan bidadari dari surga. Dulunya burung ini dianggap sebagai burung cantik tetapi tidak berkaki. Mereka tidak akan turung ke tanah tetapi hanya berada di udara saja lantaran bulu-bulunya yang indah. Karena itu kemudian burung Cenderawasih terkenal sebagai Bird of Paradise atau Burung Surga (Kayangan). Burung Cendrawasih merupakan sekumpulan spesies burung yang dikelompokkan dalam famili Paradisaeidae. Satwa langka Indonesia ini hanya terdapat di Indonesia bagian timur, Papua Nugini, dan Australia timur ini terdiri atas 14 genus dan dan sekitar 43 spesies. 30-an spesies diantaranya bisa ditemukan di Indonesia.

Baca juga: Raja Ampat “Pusat Segitiga Karang, Surganya Dunia”

4. Harimau Sumatera

Harimau sumatera  mempunyai habitat asli di pulau Sumatera, harimau ini merupakan satu dari enam subspesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) dalam daftar merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN. Harimau Sumatera memiliki tubuh yang relatif paling kecil dibandingkan semua sub-spesies harimau yang hidup saat ini. Warna kulit Harimau Sumatera merupakan yang paling gelap dari seluruh harimau, mulai dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua

Menurut WWF Indonesia, berdasarkan data tahun 2004, jumlah populasi Harimau Sumatera di alam bebas hanya sekitar 400 individu saja. Harimau Sumatera menghadapi dua jenis ancaman untuk bertahan hidup: kehilangan habitat karena tingginya laju deforestasi dan terancam oleh perdagangan ilegal dimana bagian-bagian tubuhnya diperjualbelikan dengan harga tinggi di pasar gelap untuk dijadikan obat-obatan tradisional, perhiasan, jimat, dan dekorasi. Di alam liar, satwa langka Indonesia ini hanya dapat ditemukan di Pulau Sumatera, Indonesia.

Baca juga: Nasib Hutan Indonesia

5. Tarsius tarsier di Sulawesi

Tarsius tarsier merupakan jenis primata kecil, memiliki tubuh berwarna coklat kemerahan dengan warna kulit kelabu, bermata besar dengan telinga menghadap ke depan dan memiliki bentuk yang lebar. Nama Tarsius diambil karena ciri fisik tubuh mereka yang istimewa, yaitu tulang tarsal yang memanjang, yang membentuk pergelangan kaki mereka sehingga mereka dapat melompat sejauh 3 meter (hampir 10 kaki) dari satu pohon ke pohon lainnya. Yang paling istimewa dari Tarsius adalah matanya yang besar. Ukuran matanya lebih besar jika dibandingkan besar otaknya sendiri. Mata ini dapat digunakan untuk melihat dengan tajam dalam kegelapan tetapi sebaliknya, hewan ini hampir tidak bisa melihat pada siang hari. Kepala Tarsius dapat memutar hampir 180 derajat baik ke arah kanan maupun ke arah kiri, seperti burung hantu. Telinga mereka juga dapat digerakkan untuk mendeteksi keberadaan mangsa.

Satwa langka Indonesia ini terdapat di Pulau Sulawesi yang setiap spesiesnya tersebar secara endemik dari Kepulauan Sangihe di sebelah utara, hingga Pulau Selayar. Sayang populasinya semakin menurun sehingga sejak tahun 1931, tarsius sudah dilindungi berdasarkan Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 266 tahun 1931, diperkuat dengan Undang-undang No. 5 tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999 serta Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 301/Kpts-II/1991 yang dikeluarkan tanggal 10 Juni 1991. Tarsius juga termasuk dalam daftar hewan yang dilarang untuk diperdagangkan dalam daftar Appendix II CITES.

Baca juga: Tarsius sangihe, harta karun pulau terluar Indonesia

6. Elang Jawa lambang negara Indonesia

Foto oleh Prasetyo Eko

Elang jawa  atau dalam bahasa ilmiahnya disebut Nisaetus bartelsi  adalah salah satu spesies elang berukuran sedang yang endemik di Pulau Jawa. Satwa ini dianggap identik dengan lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda sehingga sejak 1992, burung ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia.

Populasi satwa langka Indonesia ini terbilang kecil dan semakin menurun, mereka bertahan menghadapi ancaman besar untuk kelestariannya yang disebabkan oleh semakin berkurangnya habitat aslinya. Pembalakan liar dan konversi hutan menjadi lahan pertanian telah menyusutkan tutupan hutan primer di Pulau Jawa. Selain itu, jenis elang ini juga terus diburu untuk diperjualbelikan sebagai binatang peliharaan. Berdasarkan alasan tersebutlah Organisasi konversi dunia IUCN memasukan elang jawa ke dalam status EN (Endangered, terancam punah). Demikian pula, pemerintah Indonesia menetapkan hewan ini sebagai hewan yang dilindungi undang-undang.

Baca juga: Elang Ular Bido “Permata” Pegunungan Seribu Yang Kian Meredup

7. Anoa

Anoa merupakan mamalia terbesar dan endemik yang hidup di  Pulau Sulawesi dan Pulau Buton. Anoa merupakan hewan yang tergolong fauna peralihan dan tersebar hampir di seluruh pulau Sulawesi. Wilayah ini unik karena banyak memiliki flora dan fauna yang endemik dan merupakan kawasan peralihan antara benua Asia dan Australia. Anoa (Bubalus sp) merupakan salah satu satwa yang menjadi ciri khas Pulau Sulawesi yang turut mendiami Kawasan Hutan Lindung Desa Sangginora Kabupaten Poso. Satwa langka dan dilindungi ini terdiri atas dua spesies (jenis) yaitu: anoa pegunungan (Bubalus quarlesi) dan anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis). Kedua satwa ini tinggal dalam hutan yang jarang dijamah manusia. Kedua spesies anoa tersebut hanya dapat ditemukan di Sulawesi, Indonesia.

Secara umum, satwa langka Indonesia ini mempunyai warna kulit mirip kerbau, tanduknya lurus ke belakang serta meruncing dan agak memipih. Hidupnya berpindah-pindah tempat dan apabila menjumpai musuhnya anoa akan mempertahankan diri dengan mencebur ke rawa-rawa atau apabila terpaksa akan melawan dengan menggunakan tanduknya. Karena populasinya yang semakin berkurang, Anoa tergolong satwa liar yang langka dan dilindungi Undang-Undang di Indonesia sejak tahun 1931 dan dipertegas dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999.

Baca juga: Trenggiling, si manis yang bernasib tragis

8. Maleo

Burung Maleo yang mempunyai nama ilmiah Macrocephalon maleo merupakan burung yang berukuran sedang, dengan panjang sekitar 55cm. Burung Maleo adalah satwa endemik Sulawesi yang artinya hanya bisa ditemukan hidup dan berkembang di Pulau Sulawesi, Indonesia. Selain langka, burung ini ternyata unik karena anti poligami.

Tidak semua tempat di Sulawesi bisa ditemukan maleo. Sejauh ini, ladang peneluran hanya ditemukan di daerah yang memliki sejarah geologi yang berhubungan dengan lempeng pasifik atau Australasia. Populasi burung endemik Indonesia ini hanya ditemukan di hutan tropis dataran rendah pulau Sulawesi seperti di Gorontalo (Bone Bolango dan Pohuwato) dan Sulawesi Tengah (Sigi dan Banggai). Populasi maleo di Sulawesi mengalami penurunan sebesar 90% semenjak tahun 1950-an  karena berkurangnya luasan hutan yang merupakan habitat burung ini dan banyaknya masyarakat yang mengambil telur maleo untuk dijadikan sumber protein. Karena populasinya yang semakin sedikit satwa langka Indonesia ini dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999 oleh pemerintah dan berstatus endangered berdasarkan IUCN.

Baca juga: Burung Kum-kum Putih, pengusik monopoli pala Belanda

9. Kakatua Jambul-Jingga di Sumba

Kakatua jambul-jingga  atau biasa dikenal juga sebagai kakatua cempaka atau dalam nama ilmiahnya Cacatua sulphurea citrinocristata merupakan burung berukuran sedang dari salah satu kelompok burung paruh bengkok, Kakatua (Cacatua). Kakatua jambul-jingga merupakan kelompok terkecil dari empat kelompok burung Kakatua-kecil Jambul-kuning. Burung yang sangat cantik ini hidup endemik di Indonesia dan hanya ditemukan di hutan-hutan primer serta sekunder di Pulau Sumba yang terletak di Kepulauan Sunda Kecil. Makanan burung ini sama seperti jenis burung kakatua lainnya, terdiri dari biji-bijian, kacang, tanaman dan buah-buahan. Burung ini bersarang di dalam lubang pohon.

Karena hilangnya habitat hutan dan perburuan yang terus berlanjut untuk perdagangan, menyebabkan populasinya terus menyusut. Persebaran burung ini juga sangat terbatas, yang akhirnya satwa langka Indonesia ini dievaluasikan sebagai kritis di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalam CITES Appendix I sejak 12 Januari 2005 untuk mengurangi angka perburuan dan perdagangan.

Baca juga: Dampak Konversi Hutan Terhadap Satwa

10. Babi Rusa

Babirusa masih satu keluarga dengan babi hutan. Bentuk mereka sangat mirip, hanya saja babirusa punya taring melengkung di dekat mulutnya. Taringnya mirip dengan gading gajah, tetapi ukurannya lebih kecil dan lebih rapuh. Jadi, taringnya tidak bisa digunakan untuk bertarung dengan hewan lain. Panjang tubuh babirusa sekitar 87 sampai 106 sentimeter. Tinggi babirusa berkisar pada 65-80 sentimeter dan berat tubuhnya bisa mencapai 90 kilogram. Jantan memiliki taring yang mencuat ke atas, sedangkan taring pada betina kecil atau tereduksi. Taring ini berasal dari gigi taring yang termodifikasi. Taringnya yang panjang mencuat ke atas, berguna melindungi matanya dari duri rotan.

Babirusa hidup di Pulau Sulawesi, diantaranya di Pulau Togian, Malenge, Sula, Buru, dan Maluku. Satwa langka Indonesia ini termasuk hewan dilindungi sejak tahun 1996 karena populasinya yang berkurang disebabkan karena pemburuan liar dan kerusakan hutan.

 

Respond For " 10 satwa langka Indonesia jadi perhatian dunia "

Translate »
Skip to toolbar