082137355566
info@mepow.net

Burung Kum-kum Putih, pengusik monopoli pala Belanda

Kabupaten Kepulauan Sangihe merupakan kabupaten yang terletak di Provinsi Sulawesi Utara. Kabupaten ini berasal dari pemekaran Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud pada tahun 2000. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.012,94 km² dan beribu kota di Tahuna. Kabupaten ini terletak di antara Pulau Sulawesi dengan Pulau Mindanao  (Filipina), serta berada di bibir Samudera Pasifik. Wilayah kabupaten ini meliputi 3 klaster, yaitu Klaster Tatoareng, Klaster Sangihe dan Klaster Perbatasan, yang memiliki batas perairan internasional dengan provinsi Davao del Sur, Filipina. Sangihe juga terkenal dengan satwa unik endemiknya yaitu Tarsius sangihe (Tarsius sangirensis) dan satwa unik lainnya yaitu burung Kum-kum Putih atau Pergam Laut (Ducula bicolor).

Tanaman perkebunan yang menjadi komoditas unggulan adalah kelapa, pala, dan cengkeh dengan kelapa sebagai komoditas utama tanaman terbesar. Hasil perkebunan pala mencapai 3.274 ton yang banyak terkonsentrasi di Siau Barat Utara dan Tamako. Membicarakan pala diseputaran pulau Sangihe tidak dapat lepas dari sejarah satwa (binatang) yang “ikut campur” dalam perdagangan pala. Satwa tersebut adalah Pergam Laut atau oleh masyarakat lokal sering dinamakan burung Kum-Kum Putih atau burung Ponting. Bahkan pada masa penjajahan Belanda yang sangat ketat dalam monopoli pala, burung ini menjadi salah satu satwa target untuk diusir bahkan ditembak karena memakan buah pala. Tak sekedar memakan buah buah pala, burung ini kemudian mengeluarkan kotoran yang berupa Biji Pala dengan kualitas tinggi. Jika kita mengenal kopi luwak sebagi kopi dengan kualitas tinggi, didunia pala ada pala dengan kualitas tinggi yang dihasilkan dari hasil proses pencernaan seekor burung Kum-kum Putih. Sama dengan luwak pada kopi, burung Kum-kum putih ini juga memilih pala yang bagus untuk dimakan sehingga biji yang dikeluarkan juga pasti bagus. Burung Kum-kum putih yang memakan buah pala dari sekitaran Sangihe kemudian mengeluarkannya dipulau tempat dia bersarang dan berkembang biak, yaitu di Pulau Liang. Kebiasaan burung membawa keluar pulau pala-pala tersebut yang membuat Belanda geram karena monopolinya terganggu dengan adanya hasil pala dari daerah lain.

Baca juga : Saraba Teman Penghangat Malam

Pulau Liang sendiri letaknya berdekatan dengan Pulau Poa. Yang berada di wilayah Kampung Bukide (Pulau Bukide). Pulau Liang menjadi habitat yang baik bagi burung Kum-kum Putih, sehingga sampai saat ini masih dapat kita temukan berkembang biak di pulau ini. Pulau Liang memiliki panjang garis pantai sepanjang 350 Meter dengan ketinggian dari permukaan laut pada saat air surut terendah adalah  25 Meter. Ekosistem di Pulau Liang didominasi oleh vegetasi tanaman kelapa dan tumbuhan pulau lainnya. Keberadaan burung Kum-kum Putih ini telah ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kampung Bukide dengan membuat Peraturan kampong untuk melindungi keberadaannya. Burung ini membawa berkat tersendiri bagi masyarakat kampung Bukide, hal ini disebabkan  karena pada pagi  hari (Subuh) burung ini membentuk beberapa kelompok terbang menuju Pulau Sangihe Besar untuk mencari makanan, yang makanan utamanya adalah buah pala. Pada sore hari kembali lagi secara berkelompok ke Pulau Liang. Kotoran yang keluar dari burung ini dalam bentuk Biji Pala, sehingga hampir setiap hari masyarakat mencari biji pala yang tergolong kelas A di pinggiran pulau sampai ke daratan pulau.

Burung Kum-kum putih

Burung Kum-kum Putih atau Pergam Laut atau dalam nama ilmiahnya Ducula bicolor merupakan sejenis burung yang terdapat di dalam suku burung Columbidae. Burung ini berukuran sedang, dengan panjang mencapai 38cm. Burung ini memiliki bulu berwarna putih dengan bulu terbang dan sebagian besar ekornya berwarna hitam. Iris mata berwarna coklat dengan paruh berwarna abu-abu kebiruan, begitu pula dengan kulit di sekitar mata dan kakinya. Burung jantan dan betina serupa. Burung muda memiliki bulu berwarna putih keabu-abuan. Populasi Pergam Laut tersebar di hutan pulau-pulau kecil, pesisir, hutan bakau dan rawa-rawa di Asia Tenggara, dari pulau Andaman, Semenanjung Melayu, kepulauan di Indonesia, Filipina, Papua New Guinea, Australia, dan tentunya di Pulau Liang yang berada di Bukide.

Baca juga : Trenggiling, si manis yang bernasib tragis

Jika kita mengunjunjungi Bukide, kita tidak hanya dapat melihat burung Kum-kum Putih saja, namun di Bukide kita bisa sambil berwisata. Bukide yang merupakan salah satu desa yang berada di kecamatan Tabukan Selatan, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara ini memiliki objek wisata laut yang cukup menarik. Objek Wisata di pulau ini adalah wisata bawah air Spot Diving Coral Garden Terumbu Karang Objek Biota Laut – Invertebrata. Selain objek wisata bawah air, di bukide kita bisa belajar dari masyarakat mengenai perlindungan laut. Bukide sudah mengembangkan daerah perlindungan laut melalui aturan adat mereka, sehingga kelestarian perairan disekitar Bukide terjamin dan berkelanjutan. Untuk menuju Bukide, dari Kota Tahuna kita dapat dapat menuju ke pelabuhan Petta Kec. Tabukan Utara kemudian perjalanan diteruskan dengan menggunakan perahu/taksi laut ke Bukide. Jika kesulitan menemukan akses ke Bukide, kita dapat menghubungi para aktifis lingkungan yang aktif mendampingi masyarakat di Kepulauan Sangihe termasuk Bukide yaitu Perkumpulan Sampiri dan Yapeka.

Respond For " Burung Kum-kum Putih, pengusik monopoli pala Belanda "

Translate »
Skip to toolbar