082137355566
info@mepow.net

Tari Caci Lambang Keperkasaan Pria Manggarai

Tari Caci atau biasa disebut juga Caci adalah tari perang sekaligus permainan rakyat antara sepasang penari laki-laki yang bertarung dengan cambuk dan perisai di Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Caci berarti komunikasi antara Tuhan dan manusia dimana arti “Ca” adalah “satu” sedangkan “Ci” adalah “uji”. Penari Caci mengenakan celana panjang berwarna putih dipadu dengan kain songket. Tari Caci biasa dipertunjukan pada saat syukuran musim panen (hang woja) dan ritual tahun baru (penti). Penari dibekali senjata perisai yang disebut Nggiling dan cambuk yang disebut Larik.

Di daerah asalnya Manggarai, Tari Caci merupakan  suatu permainan adu ketangkasan antara dua orang laki-laki dalam mencambuk dan menangkis cambukan lawan secara bergantian. Tari Caci terlihat begitu heroik dan indah karena merupakan kombinasi antara Lomes (keindahan gerak tubuh dan busana yang dipakai), Bokak (keindahan seni vokal saat bernyanyi) , dan Lime (ketangkasan dalam mencambuk atau menangkis cambukan lawan). Caci penuh dengan simbolisme terhadap kerbau yang dipercaya sebagai hewan terkuat dan terganas di daerah Manggarai. Pecut melambangkan kekuatan ayah, kejantanan pria, penis, dan langit. Perisai melambangkan ibu, kewanitaan, rahim, serta dunia. Ketika cambuk dilecutkan dan mengenai perisai, maka terjadi persatuan antara cambuk dan perisai.

Penari yang bersenjatakan cambuk (pecut) bertindak sebagai penyerang dan seorang lainnya bertahan dengan menggunakan perisai (tameng). Seorang laki-laki yang berperan sebagai pemukul (paki) berusaha memecut lawan dengan pecut yang dibuat dari kulit kerbau atau sapi yang dikeringkan. Pegangan pecut juga dibuat dari lilitan kulit kerbau. Di ujung pecut dipasang kulit kerbau tipis dan sudah kering dan keras yang disebut lempa atau lidi enau yang masih hijau (pori). Laki-laki yang berperan sebagai penangkis (disebut ta’ang), menangkis lecutan pecut lawan dengan perisai dan busur dari bambu berjalin rotan yang disebut agang atau tereng. Perisai berbentuk bundar, berlapis kulit kerbau yang sudah dikeringkan.

Baca juga : Talempong Musiknya Minang

Perisai dipegang dengan sebelah tangan, sementara sebelah tangan lainnya memegang busur penangkis. Sasaran cambukan dari pemain Caci adalah bagian badan sebelah atas dari perut hingga kepala. Pemukulan di bagian bawah perut dianggap pelanggaran. Apabila mengenai wajah dinamai Beke . Pemain Caci yang mengalami Beke dinyatakan kalah dan harus keluar dari arena permainan pulang ke rumah atau ke kampung halamannya.

Selama atraksi berlangsung, tuan rumah pria dan wanita yang berada di luar arena melakukan Danding (bernyanyi lagu Mang ga ra i da l am bentuk lingkaran dengan gerakan berputar) disertai gerakan Sae oleh sepasang pria dan wanita di tengah lingkaran. Sementara itu beberapa wanita duduk berkelompok sambil memukul gong dan gendang yang bertalutalu untuk memeriahkan suasana.

Respond For " Tari Caci Lambang Keperkasaan Pria Manggarai "

Translate »
Skip to toolbar