082137355566
info@mepow.net

Danau Matano, Danau Purba Yang Terlupa

Danau Matano

adalah sebuah danau tektonik dengan ukuran panjang 28 kilometer dan lebar 8 kilometer di Sulawesi Selatan, tepatnya berada di ujung timur provinsi Sulawesi Selatan, berbatasan dengan Sulawesi Tengah. Danau matano berada sekitar 50 km dari kota Malili (Ibukota Kabupaten Luwu Timur). Luwu Timur sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan yang cukup dikenal dunia. Selain karena merupakan lokasi tambang nikel terbesar di dunia, di kabupaten ini juga terkenal dengan tiga danau vulkaniknya, yaitu Danau Matano, Mahalona, dan Towuti, serta dua danau kecil yang berada di sekitarnya, yaitu Danau Wawontoa/Lantoa dan Danau Masapi .  Dari kelima danau itu Danau Matano merupakan danau yang paling unik.

Danau ini memiliki kedalaman sejauh 590 meter (1.969 kaki). Permukaan air danau berada pada ketinggian 382 meter di atas permukaan laut sehingga kedalaman air danau dari permukaan laut adalah 208 meter (cryptodepression). Danau ini adalah danau terdalam di Asia Tenggara serta terdalam kedelapan di dunia.

Sejarah

Danau Matano terbentuk dari patahan (strike-slip fault) akibat aktivitas tektonik yang terjadi pada masa Pleosen. Umur danau diperkirakan berkisar antara 1-4 juta tahun yang lalu. Berdasarkan analisa karakteristik endapan. Danau ini merupakan danau tertua di antara empat danau lainnya yang membentuk sistem danau Malili (Towuti, Mahalona, Masapi, Lontoa). Dengan umur mencapai jutaan tahun. Danau ini juga merupakan salah satu danau purba di dunia. Sampai saat ini para ilmuwan telah mengidentifikasi setidaknya 10 danau purba di dunia antara lain, yaitu :  Danau Matano, Danau Poso, Danau Biwa, Danau Baikal, Danau Kaspia, Danau Tanganyika, Danau Victoria, Danau Malawi, Danau Ohrid dan Danau Titicaca

Baca juga : Menuju Kepunahan Hutan Indonesia

Dahulu Matano bernama Raham Pu’u, Raham berarti pondok atau rumah sedangkian Pu’u berarti pertama. Penamaan ini berawal dari orang pertama yang mendirikan rumah di tempat tersebut. Namun dengan ditemukannya sebuah mata air yang disebut dengan “Mata Air Burra-burra” maka nama kampung itu berubah menjadi Matano yang berarti Mata Air.  Matano bukan hanya sebutan untuk danau, namun jauh di ujung Barat danau yang berbentuk lonjong ini terdapat sebuah kampung tua yang bernama Matano kini menjadi sebuah desa yang hampir seluruh besar wilayahnya masuk dalam  hutan lindung.

Keragaman Hayati

Kondisi air Danau Matano yang hangat, sangat dalam, kaya kandungan besi tetapi minim kandungan oksigen oleh banyak peneliti dianggap memiliki kondisi yang sama dengan kondisi laut bumi pada masa Arhaean Eon sekita 2,5 juta tahun yang lalu. Keunikan kondisi danau ini mengakibatkan keunikan pada ekosistem dan keragaman hayati. Bahkan kondisi yang sangat unik ini membuat Danau Matano dimasukkan dalam kategori Global Ecoregions oleh World Wide Fund for Nature. Danau Matano merupakan menjadi habitat bagi beberapa spesies fauna dan flora endemik.

Fauna

ikan butiniDanau Matano memiliki 6 spesies kerang (Tylomelania), 3 spesies kepiting (Gecarcinucidae), 6 spesies udang dan 10 spesies ikan bersirip tajam (Thelmaterinidae). Salah satu spesies yang menarik adalah ikan butini (Glossogobius matanensis) yang hidup di dasar danau. Ikan Opudi (Telmatherina celebensis) termasuk salah satu ikan hias yang diperdagangkan baik dalam negeri maupu luar negeri. Nama dagang ikan ini adalah Celebes Rainbow Fish atau Celebes Sail Fish.

 

Flora

Danau Matano memiliki 7 spesies tanaman endemik. Syamsiah dkk. dari Universitas Negeri Makassar telah mengidentifikasi 3 jenis tumbuhan pinang-pinangan (Hydriastele) yang masuk dalam kategori endemik. H.C. Hopkins menyatakan bahwa Weinmannia devogelii H.C. Hopkins merupakan tumbuhan endemik Danau Matano. Tumbuhan-tumbuhan itu masing-masing, Vatica flavovirens/celebica (rode), Vatica rassak (dama’dere), dan Hopea celebica.

 Baca juga : Raja Ampat “Pusat Segitiga Karang, Surganya Dunia”

Pemanfaatan

Sumber Air Minum dan Transportasi

Mata air Danau Matano berasal dari Desa Matano. Oleh warga setempat mata air tersebut telah dibuatkan tembok persegi sehingga menjadi kolam berukuran 12 x 8 meter. Gelembung-gelembung air yang tak henti bermunculan di atas permukaan kolam. Penduduk yang tinggal di sekeliling danau menggunakan air danau sebagai bahan baku air minum.

Danau Matano juga menjadi sumber mata air bagi dua danau besar lainnya yaitu Mahalona dan Towuti. Jika terusan atau sungai yang mengarah ke danau Mahalona ditutup maka air dua danau tersebut akan menyusut. Pada terusan itu pula terdapat pembangkit listrik perusahaan yang menyediakan listrik agar perusahaan tambang tetap berjalan. Sekalipun dikenal sebagai kampung tua yang dulunya jadi tempat para pengrajin besi, seluruh wilayah Matano masih berstatus hutan lindung.

Kapal penyeberangan dari Nuha merapat di dermaga Sorowako. Danau Matano juga dijadikan jalan untuk menyeberang antara Sorowako dan Nuha yang menghubungkan Kabupaten Morowali dengan Kabupaten Luwu Timur.

 Baca juga : Kapurung Luwu Yang Lezat

Taman Wisata Alam

 

 

Respond For " Danau Matano, Danau Purba Yang Terlupa "

Translate »
Skip to toolbar