082137355566
info@mepow.net

Jaipong Dari Masa Ke Masa

Tari jaipongan muncul di tahun 1980 an. Llahir dari kekreatifitasan para seniman Bandung yang dikenal dengan Gugum Gumbira , pada awalnya tarian tersebut pengembangan dari ketuk tilu apabila dilihat dari perkembangannya dan dasar koreografernya. Kata jaipong berasal dari masyarakat Karawang yang bersal dari bunyi kendang sebagai iringan tari rakyat yang menurut mereka berbunyi jaipong yang secara onomotofe . tepak kendang tersebut sebagai iringan tari pergaulan dalam kesenian banjidoran yang berasal dari Subang dan Karawang yang akhirnya menjadi populer dengan istilah jaipongan.

Karya jaipongan pertama yang diciptakan oleh Gugum Gumbira adalah tari daun pulus keser bojong dan tari Raden Bojong yang berpasangan putra- putri. Tarian tersebut sangat digemari dan populer di seluruh Jawa Barat termasuk Kabupaten Bandung karya lain yang diciptakan oleh Gugum diantaranya toka-toka, setra sari, sonteng, pencug, kuntul mangut, iring-iring daun puring , rawayan, kaum anten dll. juga para penari yang populer diantaranya seperti Iceu Efendi, Yumiati Mandiri, Mimin Mintarsih, Nani, Erna, Mira Tejaningrum, Ine Diar, Asep Safat.

Baca juga : Tari Pendet “bukan punya Malaysia”

Daya tarik tarian tersebut bagi kaum muda selain gerak dari tari yang dinamis dan tabuhan kendang membawa mereka untuk menggerakan tubuhnya untuk menari sehingga tari jaipongan sebagai salah satu identitas kesenian Jawa Barat yang oadasetiap tampil pada acara- acara khusus dan besar samapai kenegaraan. Pengaruh tarian jaipongan merambah sampai Jawa Tengan dan Timur , Bali bahkan Sumatra yang dikembangkan para seniman luar Jawa Barat.

Penari jaipongan terdiri dari Tunggal dan rampak / kolosal

  1.  Rampak sejenis
  2. Rampak berpasangan
  3. Tunggal laki-laki dan tunggal perempuan
  4. Berpasangan laki- laki / perempuan

Baca juga : Keraton Yogyakarta megah dan penuh makna

Karawitan jaipongan terdiri dari karawitan sederhana yang biasa digunakan pertunjukan ketuk tilu yaitu kendang, ketuk, rebab, goong, kecrek, dan disempurnakan sang penyanyi (sinden). Untuk karawitan lengkap memakai gamelan yang biasa dipakai pada karawitan wayang golek seperti kendang, sarin, bonang, rincik, demung, rebab, kecrek, sinden, goong, dan juru alok.

Tata busana tari jaipongan untuk kreasi baru biasanya berbeda dengan busana ketuk tilu untuk yang kreasi biasanya lebih glamor dengan tetap memakai pola tradisional seperti sinjang / celana panjang , kebaya / apok yang busananya lebih banyak ornamen sehingga terlihat megah tetapi lebih bebas bergerak . Seiring dengan perkembangan jaman dan tarian tersebut tari jaipongan banyak ditampilkan pada arena terbuka secara kolosal juga tampil di Hotel berbintang dan penyambutan tamu- tamu asing dari berbagai belahan dunia.

Respond For " Jaipong Dari Masa Ke Masa "

  • de darma June 1, 2010 16:35

    maju trus seni budaya indonesia,,jangan biarkan kesenian kita direbut tetangga....kunjungi blog saya ya mas.....saya bru blajar..mohon bimbingannya....
  • haztuti November 15, 2009 18:16

    saya setuju tari jaipong adalah merupakan aset seni jawa barat yang harus dipertahankan dan terus dikembangkan...
  • dani October 6, 2009 11:36

    makasih ya...... aternuhun..............
  • Dani August 24, 2009 21:20

    Setuju, jgn sampe smuanya direbut tetangga. Pemerintah jg harus lbih perhatian menjaga budaya indonesia
  • adekusnadi August 24, 2009 17:39

    tari jaipong kudu dilestarikeun nganggo hak paten, jangan2 diaku malaysia lagi
  • mamet June 11, 2009 09:47

    sae
Translate »
Skip to toolbar